Minggu, 02 Februari 2020

DEMI PERANTAUAN YANG BERIMAN, LEGAL DAN PRODUKTIF

BY Paroki San Juan



DEMI PERANTAUAN 
YANG BERIMAN, LEGAL DAN PRODUKTIF
(catatan atas kerja sama pastoral mirantau Keuskupan Larantuka dan Keuskupan Agung Kuala Lumpur)
Anselmus D. Atasoge

Sepuluh tahun sudah, sejak 2013, Keuskupan Larantuka melalui Commision for the Pastoral Care of Migrants and Itinerant People  (Komisi Pastoral Migran dan Perantau) menjalin kerja sama. Kerja sama difokuskan pada persoalan migrasi dan perantauan. Kerja sama dimulai ketika Romo Lukas Laba Erap, Pr atas nama Uskup Larantuka menemui Most. Reverend Murpy Pakiam, Uskup Agung Kuala Lumpur kala itu dalam koordinasi dengan Komunitas Katolik Indonesia yang diketuai Bapak Andreas Making.
Bahwasanya, globalisasi migrasi telah terasa hampir di semua belahan dunia. Menurut Romo Lukas Laba, migrasi bukan hanya sebuah realitas sosial, ekonomi dan politik, tetapi juga realitas rohani, sebuah ziarah iman dan harapa seperti Abraham dan keluarganya, eksodus dari Mesir dan inkarnasi Sabda yang menjadi manusia. 
Spiritualitas ini hendaknya melahirkan kebijakan pastoral khusus dari Gereja Lokal yang terkena dampak migrasi terutama kebijakan dari para uskupnya. Mengapa? Hal ini penting mengingat para migran dan perantau memiliki konteks tersendiri yang memerlukan reksa pastoral khusus (cf. Konsili Vatikan II, Christus Dominus art. 18).
Berkenan dengan hal ini, Komisi Pastoral Mirantau Keuskupan Larantuka dan Komunitas Katolik Indonesia di Kuala Lumpur-Malaysia mendatangi pimpinan baru Gereja Lokal Kuala Lumpur, Most. Reverend Julian Leow untuk menyampaikan kehendak baik dari Keuskupan Larantuka-Indonesia. Maksud utama dari kehendak baik itu adalah melanjutkan kerja sama yang telah dimulai bersama Uskup Emeritus Most. Reverend Murpy Pakiam.
Menurut Romo Lukas, Ketua Komisi Pastoral Mirantau Keuskupan Larantuka, untuk merasakan secara langsung jeritan hati para migran dan perantau yang sedang berziarah dalam iman, para pastor dari Keuskupan Larantuka terus memberikan pelayanan pada hari raya natal dan paskah sejak 2013 hingga saat ini. Belakangan ini, frekuensi pelayanan pun ditingkatkan dalam bentuk ret-ret dan rekoleksi yang juga melibatkan para pastor dari Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Ruteng dan keuskupan lain di Indonesia.
Romo Lukas mengakui bahwa selama visitasi dan asistensi untuk para migran, para pastor membuat pendataan dan menangkap sejumlah persoalan yang dihadapi para migran dan perantau. Persoalan itu di antaranya masalah dokumen keimigrasian, masalah perkawinan dan keluarga, masalah anak-anak migran serta prosedur pelayanan rohani dari para pastor asal Indonesia.
Dalam evaluasi pasca Paskah 2017 di Hotel Vistana Kuala Lumpur Malaysia, para pastor dari Keuskupan Larantuka bersama KKI (Komunitas Katolik Indonesia) merekomendasikan beberapa hal penting untuk dipertimbangkan dan disetujui oleh Keuskupan Agung Kuala Lumpur. Hasilnya selanjutnya dipergunakan sebagai rujukan pelayanan pastoral bagi para migran.
Pertama, pelayanan rohani oleh para pastor dari Indonesia perlu ditingkatkan di waktu mendatang mengingat pelayanan rohani adalah pintu masuk untuk memberi penyadaran tentang sebuah migrasi yang bermartabat: beriman, legal dan produktif. Terkait pelayanan rohani beberapa hal ini menjadi fokus perhatian: pelayanan rohani yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh para pastor dari Flores atau keuskupan lain di Indonesia ketika melakukan visitasi dan asistensi di Keuskupan Agung Kuala Lumpur; prosedur permohonan dokumen nikah dan pencatatan permandian setelah para migran diterimakan sakramen perkawinan dan permandian, khususnya bagi para katekumen dan anak-anak serta bayi; dan proses pemakaman bagi para migran yang meninggal dunia dalam konteks Gereja Lokal Keuskupan Agung Kuala Lumpur. Kedua, permohonan pelayanan rohani dalam bentuk apa saja hendaknya diketahui oleh Uskup Kuala Lumpur dan Uskup-Uskup di Flores NTT atau keuskupan lain di Indonesia dan dalam koordinasi dengan Komunitas Katolik Indonesia dan Koordinator Migran Indonesia yakni Ibu Maria Widhijanto Ng. Ketiga, terkait dengan beberapa hal tersebut hendaknya masing-masing keuskupan di Flores atau daerah lain di Indonesia membuat memorandum of understanding (MoU) dengan Keuskupan Agung Kuala Lumpur agar semua bentuk pelayanan dapat dikoordinir dengan baik.
Ketika sejuta soal bertaburan, realitas migran jadinya makin kompleks di negara tujuan khususnya di Kuala Lumpur-Malaysia dan sekitarnya. Keuskupan asal para migran tak henti-hentinya mengkritisi realitas migrasi dalam terang iman, meningkatkan dampak positif migrasi dan menekan dampak negatifnya terutama persoalan HAM, khususnya hak-hak para migran, komunitas-komunitas migran (Komunitas Katolik Indonesia) dan institusi yang menaungi para migran untuk taat pada regulasi pemerintahan di Malaysia.
Tanggung jawab yang sama dititipkan pula kepada Gereja-gereja Lokal, juga tarekat-tarekat religius dan awam untuk memberi penyadaran kepada para migran yang memperjuangkan hidupnya di Malaysia. Sejatinya, kasih Kristus untuk para migran (erga migrantes caritas Christi) menjadi spiritualitas sosial yang menggerakan keterlibatan dalam pastoral khusus ini. Sebab, kaum buruh Migran dan perantau bukan hanya sebagai obyek evangelisasi Gereja, tetapi juga subyek evangelisasi Gereja. Pengakuan iman dan komitmen pribadi dan bersama untuk “memihak Dia”, menuntut tanggungjawab sosial  kita (cf. Porta Fidei, art. 7).

Kamis, 30 Januari 2020

GAGASAN-GAGASAN POKOK DOKUMEN-DOKUMEN AJARAN SOSIAL GEREJA

BY Paroki San Juan


GAGASAN-GAGASAN POKOK DOKUMEN-DOKUMEN AJARAN SOSIAL GEREJA
(Dirangkum oleh Seksi Komsos PSJ)


RERUM NOVARUM (KONDISI KERJA) Ensiklik Paus Leo XIII
Tahun
:
1891-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
RN (Rerum Novarum) merupakan Ensiklik pertama ajaran sosial Gereja. Menaruh fokus keprihatinan pada kondisi kerja pada waktu itu, dan tentu saja juga nasib para buruhnya. Tampilnya masyarakat terindustrialisasi mengubah pola lama hidup bersama, pertanian. Tetapi, para buruh mendapat perlakuan buruk. Mereka diperas. Jatuh dalam kemiskinan struktural yang luar biasa. Dan tidak mendapat keadilan dalam upah dan perlakuan. Ensiklik RN merupakan ensiklik pertama yang menaruh perhatian pada masalah-masalah sosial secara sistematis dan dalam jalan pikiran yang berangkat dari prinsip keadilan universal. Dalam RN hak-hak buruh dibahas dan dibela. Pokok-pokok pemikiran RN menampilkan tanggapan Gereja atas isu-isu keadilan dan pembelaan atas martabat manusia (kaum buruh).
Tema-Tema Pokok
:
Promosi martabat manusia lewat keadilan upah pekerja; hak-hak buruh; hak milik pribadi (melawan gagasan Marxis-komunis); konsep keadilan dalam konteks pengertian hukum kodrat; persaudaraan antara yang kaya dan miskin untuk melawan kemiskinan (melawan gagasan dialektis Marxis); kesejahteraan umum; hak-hak negara untuk campur tangan (melawan gagasan komunisme); soal pemogokan; hak membentuk serikat kerja; dan tugas Gereja dalam membangun keadilan sosial.
Konteks Zaman
:
Revolusi industri; kemiskinan yang hebat pada kaum pekerja/buruh; tiadanya perlindungan pekerja oleh otoritas publik dan pemilik modal; jurang kaya miskin yang luar biasa.



QUADRAGESIMO ANNO (SESUDAH 40 THN) Ensiklik Paus Pius XI
Tahun
:
1931–
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
QA (Quadragesimo Anno) memiliki judul maksud “Rekonstruksi Tatanan Sosial.” Nama Ensiklik ini (40 tahun) dimaksudkan untuk memperingati Ensiklik Rerum Novarum. Tetapi pada zaman ini memang ada kebutuhan sangat hebat untuk menata kehidupan sosial bangsa manusia. Diperkenalkan dan ditekankan terminologi yang sangat penting dalam Ajaran Sosial Gereja, yaitu “subsidiaritas” (maksudnya, apa yang bisa dikerjakan oleh tingkat bawah, otoritas di atasnya tidak perlu ikut campur). Dalam banyak hal QA masih melanjutkan RN mengenai soal-soal “dialog”-nya dengan perkembangan masyarakat. Menolak solusi komunisme yang menghilangkan hak-hak pribadi. Tetapi juga sekaligus mengkritik persaingan kapitalisme sebagai yang akan menghancurkan dirinya sendiri
Tema-Tema Pokok
:
QA bermaksud menggugat kebijakan-kebijakan ekonomi zaman itu; membeberkan akar-akar kekacau-annya sekaligus menawarkan solusi pembenahan tata sosial hidup bersama, sambil mengenang Ensklik RN; soal hak-hak pribadi dan kepemilikan bersama; soal modal dan kerja; prinsip-prinsip bagi hasil yang adil; upah adil; prinsip-prinsip pemulihan ekonomi dan tatanan sosial; pembahasan sosialisme dan tentu saja kapitalisme; langkah-langkah Gereja dalam mengatasi kemiskinan struktural.
Konteks Zaman
:
Depresi ekonomi sangat hebat terjadi tahun 1929 menggoyang dunia. Di Eropa bermunculan diktator, kebalikannya demokrasi merosot di mana-mana.



MATER ET MAGISTRA (KRISTIANITAS DAN KEMAJUAN SOSIAL)
Ensiklik Yohanes XXIII
Tahun
:
1961–
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Masalah-masalah sosial yang diprihatini oleh Ensiklik ini khas pada zaman ini. Soal jurang kaya miskin tidak hanya disimak dari sekedar urusan pengusaha dan pekerja, atau pemilik modal dan kaum buruh, melainkan sudah menyentuh masalah internasional. Untuk pertama kalinya isu “internasional” dalam hal keadilan menjadi tema ajaran sosial Gereja. Ada jurang sangat hebat antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Kemiskinan di Asia, Afrika, dan Latin Amerika adalah produk dari sistem tata dunia yang tidak adil. Di lain pihak, persoalan menjadi makin rumit menyusul perlombaan senjata nuklir, persaingan eksplorasi ruang angkasa, bangkitnya ideologi-ideologi. Dalam Ensiklik ini diajukan pula “jalan pikiran” Ajaran Sosial Gereja: see, judge, and act. Gereja Katolik didesak untuk berpartisipasi secara aktif dalam memajukan tata dunia yang adil.
Tema-Tema Pokok
:
Ensiklik ini masih berkaitan dengan peringatan RN, maka pada bagian awal Mater et Magistra diingat sekali lagi semangat RN dan QA. Disadari isu-isu baru dalam perkembangan terakhir di bidang sosial, politik dan ekonomi; peranan negara dalam kemajuan ekonomi; partisipasi kaum buruh; soal kaum petani; bagaimana ekonomi ditata seimbang; kerjasama antarnegara; bantuan internasional; soal pertambahan penduduk; kerjasama internasional; ajaran sosial Gereja dan kepentingannya.
Konteks Zaman
:
Kemiskinan luar biasa di negara-negara selatan; maraknya problem sosial dalam skala luas dunia;



PACEM IN TERRIS (DAMAI DI BUMI) Ensiklik Paus Yohanes XXIII
Tahun
:
1963–
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Pacem in Terris menggagas perdamaian, yang menjadi isu sentral pada dekade enam puluhan. Bilamana terjadi perdamaian? Bila ada rincian tatanan yang adil dengan mengedepankan hak-hak manusiawi dan keluhuran martabatnya. Yang dimaksudkan dengan tatanan hidup ialah tatanan relasi (1) antarmasyarakat, (2) antara masyarakat dan negara, (3) antarnegara, (4) antara masyarakat dan negara-negara dalam level komunitas dunia. Ensiklik menyerukan dihentikannya perang dan perlombaan senjata serta pentingnya memperkokoh hubungan internasional lewat lembaga yang sudah dibentuk: PBB. Ensiklik ini memiliki muatan ajaran yang ditujukan tidak hanya bagi kalangan Gereja Katolik tetapi seluruh bangsa manusia pada umumnya.
Tema-Tema Pokok
:
Tata dunia, tata negara, relasi antarwarga masyarakat dan negara, struktur negara (bagaimana diatur), hak-hak warganegara; hubungan internasional antarbangsa; seruan agar dihentikannya perlombaan senjata; soal “Cold War” (perang dingin) oleh produksi senjata nuklir; komitmen Gereja terhadap perdamaian dunia. Penekanan pondasi uraian pada gagasan hukum kodrat.
Konteks Zaman
:
Perang dingin antara Barat dan Blok Timur, pendirian Tembok Berlin yang memisahkan antara Jerman Barat dan Timur simbol pemisahan bangsa manusia (Agustus 1961), soal krisis Misile Cuba (1962)



GAUDIUM ET SPES (GEREJA DI DUNIA MODERN)
Dokumen Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II
Tahun
:
1965-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Konsili Vatikan II merupakan tonggak pembaharuan hidup Gereja Katolik secara menyeluruh. GS (Gaudium et Spes) menaruh keprihatinan secara luas pada tema hubungan Gereja dan Dunia modern. Ada kesadaran kokoh dalam Gereja untuk berubah seiring dengan perubahan kehidupan manusia modern. Soal-soal yang disentuh oleh GS dengan demikian berkisar tentang kemajuan manusia di dunia modern. Di lain pihak tetap diangkat ke permukaan soal jurang yang tetap lebar antara si kaya dan si miskin. Relasi antara Gereja dan sejarah perkembangan manusia di dunia modern dibahas dalam suatu cara yang lebih gamblang, menyentuh nilai perkawinan, keluarga, dan tata hidup masyarakat pada umumnya. Judul dokumen ini mengatakan suatu “perubahan eksternal” dari kebijakan hidup Gereja: Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia-manusia zaman ini, terutama kaum miskin dan yang menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Kardinal Joseph Suenens (dari Belgia) berkata bahwa pembaharuan Konsili Vatikan II tidak hanya mencakup bidang liturgis saja, melainkan juga hidup Gereja di dunia modern secara kurang lebih menyeluruh. GS membuka cakrawala baru dengan mengajukan perlunya “membaca tanda-tanda zaman” (signs of the times).
Tema-Tema Pokok
:
Penjelasan tentang perubahan-perubahan dalam tata hidup masyarakat zaman ini; martabat pribadi manusia; ateisme sistematis dan ateisme praktis; aktivitas hidup manusia; hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia; beberapa masalah mendesak, seperti perkawinan, keluarga; cinta kasih suami isteri; kesuburan perkawinan; kebudayaan dan iman; pendidikan kristiani; kehidupan sosial ekonomi dan perkembangan terakhirnya; harta benda diperuntukkan bagi semua orang; perdamaian dan persekutuan bangsa-bangsa; pencegahan perang; kerjasama internasional.
Konteks Zaman
:
Perang dingin masih tetap berlangsung. Di lain pihak, negara-negara baru “bermunculan” (beroleh kemerdekaan)



POPULORUM PROGRESSIO (KEMAJUAN BANGSA-BANGSA)
Ensiklik Paus Paulus VI
Tahun
:
1967-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Perkembangan bangsa-bangsa merupakan tema pokok perhatian dari Ensiklik Ajaran Sosial. Gereja memandang bahwa kemajuan bangsa manusia tidak hanya dalam kaitannya dengan perkara-perkara ekonomi atau teknologi, tetapi juga budaya (kultur). Kemajuan bangsa manusia masih tetap dan bahkan memiliki imbas pemiskinan pada sebagian besar bangsa-bangsa. Isu marginalisasi kaum miskin mendapat tekanan dalam dokumen ini. Revolusi di berbagai tempat di belahan dunia kerap kali tidak membawa bangsa manusia kepada kondisi yang lebih baik, malah kebalikannya, kepada situasi yang sangat runyam. Kekayaan dari sebagian negara-negara maju harus dibagi untuk memajukan negara-negara yang miskin. Soal-soal yang berkaitan dengan perdagangan (pasar) yang adil juga mendapat sorotan yang tajam. Ensiklik ini menaruh perhatian secara khusus pada perkembangan masyarakat dunia, teristimewa negara-negara yang sedang berkembang. Diajukan pula refleksi teologis perkembangan / kemajuan yang membebaskan dari ketidakadilan dan pemiskinan.
Tema-Tema Pokok
:
Perkembangan bangsa manusia zaman ini; kesulitan-kesulitan yang dihadapi; kerjasama antarbangsa-bangsa; dukungan organisasi internasional, seperti badan-badan dunia yang mengurus bantuan keuangan dan pangan; kemajuan diperlukan bagi perdamaian.
Konteks Zaman
:
Tahun enampuluhan memang tahun perkembangan bangsa-bangsa; banyak negara baru bermunculan di Afrika; tetapi juga sekaligus perang ideologis dan antarkepentingan kelompok manusia luar biasa ramainya; pada saat yang sama terjadi ancaman proses marginalisasi (pemiskinan); terjadi perang di Vietnam yang sangat brutal; di Indonesia sendiri terjadi perang ideologis (Marxis-komunis dan militer).



OCTOGESIMA ADVENIENS (PANGGILAN UNTUK BERTINDAK)
Surat Apostolik Paus Paulus VI
Tahun
:
1971-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Arti “Octogesima” adalah yang ke-80; maksudnya: surat apostolik ini dimaksudkan untuk manandai usia Rerum Novarum yang ke-80 tahun. Paulus VI menyerukan kepada segenap anggota Gereja dan bangsa manusia untuk bertindak memerangi kemiskinan. Soal-soal yang berkaitan dengan urbanisasi dipandang menjadi salah satu sebab lahirnya “kemiskinan baru”, seperti orang tua, cacat, kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran kota, dst. Diajukan ke permukaan pula masalah-masalah diskriminasi warna kulit, asal usul, budaya, sex, agama. Gereja mendorong umatnya untuk bertindak ambil bagian secara aktif dalam masalah-masalah politik dan mendesak untuk memperjuangkan nilai-nilai / semangat injili. Memperjuangkan keadilan sosial.
Tema-Tema Pokok
:
Soal kepastian dan ketidakpastian fenomen kemajuan bangsa manusia zaman ini berkaitan dengan keadilan; urbanisasi dan konsekuensi-konsekuensinya; soal diskriminasi; hak-hak manusiawi; kehidupan politik, ideologi; menyimak sekali lagi daya tarik sosialisme; soal kapitalisme; panggilan kristiani untuk bertindak memberi kesaksian hidup dan partisipasi aktif dalam hidup politik.
Konteks Zaman
:
Dunia mengalami resesi ekonomi dengan korban mereka yang miskin; di Amerika aksi Martin Luther King untuk perjuangan hak-hak asasi marak dan menjadi perhatian dunia; protes melawan perang Vietnam.



CONVENIENTES EX UNIVERSO (BERHIMPUN DARI SELURUH DUNIA)atau lebih tepat dikenal: JUSTICIA IN MUNDO (JUSTICE IN THE WORLD) Sinode para Uskup di dunia
Tahun
:
1971-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Dunia sedang berhadapan dengan problem keadilan. Untuk pertama kalinya (boleh disebut demikian) sinode para uskup menaruh perhatian pada soal-soal yang berkaitan dengan keadilan. Para uskup berhimpun dan bersidang serta menelorkan keprihatinan tentang keadilan dalam tata dunia. Misi Gereja tanpa ada suatu upaya konkret dan tegas mengenai tindakan perjuangan keadilan, tidaklah integral. Misi Kristus dalam mewartakan datangnya Kerajaan Allah mencakup pula datangnya keadilan. Dokumen ini banyak diinspirasikan oleh seruan keadilan dari Gereja-Gereja di Afrika, Asia, dan Latin Amerika. Secara khusus pengaruh pembahasan tema “Liberation” oleh para uskup Amerika Latin di Medellin (Kolumbia). Keadilan merupakan dimensi konstitutif pewartaan Injil.
Tema-Tema Pokok
:
Misi Gereja dan keadilan merupakan dua elemen yang tidak bisa dipisahkan; soal-soal yang berhubungan dengan keadilan dan perdamaian: hak asasi manusia; keadilan dalam Gereja; keadilan dan liturgi; kehadiran Gereja di tengah kaum miskin. Terminologi kunci yang dibicarakan adalah “oppression” dan “liberation”.
Konteks Zaman
:
Konteks peristiwa dunia masih berada pada dokumen di atasnya. Dunia sangat haus akan keadilan dan perdamaian. Pengaruh dari Pertemuan Medellin (di Kolumbia) tahun 1968 sangat besar.



EVANGELII NUNTIANDI (EVANGELISASI DI DUNIA MODERN)
Anjuran apostolik Paus Paulus VI
Tahun
:
1975-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Arah dasarnya: agar Gereja dalam pewartaannya dapat menyentuh manusia pada abad ke duapuluh. Ada tiga pertanyaan dasar: (1) Sabda Tuhan itu berdaya, menyentuh hati manusia, tetapi mengapa Gereja dewasa ini menjumpai hidup manusia yang tidak disentuh oleh Sabda Tuhan (melalui pewartaan Gereja)? (2) Dalam arti apakah kekuatan evangelisasi sungguh-sungguh mampu mengubah manusia abad ke-20 ini? (3) Metode-metode apakah yang harus diterapkan agar kekuatan Sabda sungguh menemukan efeknya?
Tuhan Yesus mewartakan keselamatan sekaligus pewartaan pembebasan. Gereja melanjutkannya. Hal baru dalam dokumen ini ialah bahwa pewartaan Kabar Gembira sekaligus harus membebaskan pula.
Tema-Tema Pokok
:
EN (Evangelii Nuntiandi) mengajukan tema-tema problem kultural sekularisme ateistis, indi-ference, konsumerisme, diskriminasi, pengedepanan kenikmatan dalam gaya hidup, nafsu untuk mendominasi.
Konteks Zaman
:
EN dimaksudkan untuk memperingati Konsili Vatikan ke-10.



REDEMPTOR HOMINIS (SANG PENEBUS MANUSIA)
Ensiklik Yohanes Paulus II (Ensiklik-nya yang pertama)
Tahun
:
1979-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Sebenarnya Ensiklik ini tidak dikategorikan sebagai Ensiklik Ajaran Sosial Gereja. Tetapi, lukisan tentang penebusan umat manusia oleh Yesus Kristus sebagai penebusan yang menyeluruh memungkinkan beberapa gagasan ensiklik ini bersinggungan dengan tema-tema keadilan sosial. Gagasan dasarnya: manusia ditebus oleh Kristus dalam situasi hidupnya secara konkret. Yaitu, dalam hidup situasi di dunia modern. Disinggung mengenai konsekuensi kemajuan dan segala macam akibat yang ditimbulkan. Hak-hak asasi manusia dengan sendirinya juga didiskusikan. Misi Gereja dan tujuan hidup manusia.
Tema-Tema Pokok
:
Misteri penebusan manusia di zaman modern; kemajuan dan akibat-akibatnya; misi Gereja untuk menjawab persoalan zaman ini.
Konteks Zaman
:
Merupakan Ensiklik pertama dari kepausan Bapa Suci Yohanes Paulus II.



LABOREM EXCERCENS (KERJA MANUSIA)
Ensiklik Paus Yohanes Paulus II
Tahun
:
1979-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
“Kerja” merupakan tema sentral hidup manusia. Hanya dengan kerja, harkat dan martabat manusia menemukan pencetusan keluhurannya. Manusia berhak bekerja untuk kelangsungan hidupnya, untuk membuat agar hidup keluarga bahagia dan berkecukupan. Ensiklik ini mengkritik tajam komunisme dan kapitalisme sekaligus sebagai yang memperlakukan manusia sebagai alat produktivitas. Manusia cuma sebagai instrumen penghasil kemajuan dan perkembangan. Manusia berhak kerja, sekaligus berhak upah yang adil dan wajar, sekaligus berhak untuk makin hidup secara lebih manusiawi dengan kerjanya.
Tema-Tema Pokok
:
Sebagian besar isinya ialah tentang keadilan kerja, yang sudah dikatakan dalam Rerum Novarum; memang Ensiklik ini dimaksudkan untuk memperingati 90 tahun Rerum Novarum.
Kerja dan manusia; semua orang berhak atas kerja, termasuk di dalamnya yang cacat; perlunya jaminan keselamatan / kesehatan dalam kerja; manusia berhak atas pencarian kerja yang lebih baik di mana pun, juga di negeri orang.
Konteks Zaman
:
Dalam periode zaman ini dirasakan sangat besar jumlah pengangguran. Para pekerja migrant (tenaga asing) sangat mudah diperas dan mendapat perlakuan tidak adil.



SOLLICITUDO REI SOCIALIS (KEPRIHATINAN SOSIAL)
Ensiklik Paus Yohanes Paulus II
Tahun
:
1987-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Ensiklik ini merupakan ulang tahun ke-20 dari Ensiklik Populorum Progressio. Jurang antara wilayah / negara-negara Selatan (miskin) dan Utara (kaya) luar biasa besarnya. Perkembangan dan kemajuan sering kali sekaligus pemiskinan pada wilayah lain. Persoalannya semakin rumit manakala dirasakan semakin hebatnya pertentangan ideologis antara Barat dan Timur, antara kapitalisme dan komunisme. Persaingan ini semakin memblokir kerjasama dan solidaritas kepada yang miskin. Negara-negara Barat semakin membabi buta dalam eksplorasi kemajuan. Sementara negara-negara miskin semakin terpuruk oleh kemiskinannya. Konsumerisme dan “dosa struktural” makin mendominasi hidup manusia.
Tema-Tema Pokok
:
Ensiklik ini mengajukan makna baru tentang pengertian “the structures of sin”; pemandangan secara teliti sumbangsih Ensiklik yang diperingati, Populorum Progressio; digambarkan pula panorama zaman ini dengan segala kemajuannya; tinjauan teologis masalah-masalah modern;
Konteks Zaman
:
Perang berkecamuk seputar ideologi pada zaman ini; Soviet menginvasi Afganistan dan setahun kemudian menarik diri dari Afganistan; dan berbagai ketegangan yang dimunculkan oleh persaingan ideologis yang hebat.



CENTESIMUS ANNUS (TAHUN KE SERATUS)
Ensiklik Yohanes Paulus II
Tahun
:
1991-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Menandai ulang tahun Rerum Novarum yang ke-100. Dokumen ini memiliki jalan pikiran yang kurang lebih sama, paradigma yang ditampilkan dalam Rerum Novarum untuk menyimak dunia saat ini. Perkembangan baru berupa jatuhnya komunisme dan sosialisme marxisme di wilayah Timur (Eropa Timur) menandai suatu periode baru yang harus disimak secara lebih teliti. Jatuhnya sosialisme marxisme tidak berarti kapitalisme dan liberalisme menemukan pembenarannya. Kesalahan fundamental dari sosialisme ialah tiadanya dasar yang lebih manusiawi atas perkembangan. Martabat dan tanggung jawab pribadi manusia seakan-akan disepelekan. Di lain pihak, kapitalisme bukanlah pilihan yang tepat pula. Perkembangan yang mengedepankan eksplorasi kebebasan akan memicu ketidakadilan yang sangat besar. Centesimus Annus mengurus pula soal-soal lingkungan hidup yang menjadi permasalahan menyolok pada zaman ini.
Tema-Tema Pokok
:
Skema jalan pikiran Ensiklik ini serupa dengan dokumen-dokumen sebelumnya: pertama-tama dibicarakan dulu mengenai Rerum Novarum yang diperingati; berikutnya dengan menyimak pola Rerum Novarum, Ensiklik Centesimus Annus membahas “hal-hal baru zaman sekarang”; diajukan pula catatan “tahun 1989” (adalah tahun jatuhnya tembok Berlin); prinsip harta benda dunia diperuntukkan bagi semua orang; negara dan kebudayaan; manusia ialah jalan bagi Gereja; soal lingkungan hidup
Konteks Zaman
:
Jatuhnya komunisme di Eropa Timur yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin; Nelson Mandela – sang figur penentang diskriminasi – bebas dari penjara (1990). Memang ada sekian “hal-hal baru” yang pantas disimak



The Participation of Catholics in Political life - Dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman
Tahun
:
2002-
Dokumen Ajaran Sosial Gereja
:
Dokumen ini merupakan garis bawah pentingnya partisipasi umat Katolik pada kehidupan politik. Umat Katolik tidak boleh pasif. Tantangan perkembangan dan kemajuan demikian besar, umat Katolik diminta memiliki kesadaran-kesadaran tanggung jawab dan partisipasi untuk memajukan kehidupan bersama dalam soal-soal politik. Politik bukanlah lapangan kotor, melainkan lapangan kehidupan yang harus ditata dengan baik.
Tema-Tema Pokok
:
Seputar kehidupan politik dan pentingnya partisipasi umat beriman Katolik untuk peduli dengan soal-soal politik.
Konteks Zaman
:
Zaman ini mengukir soal-soal yang sangat menyolok: hidup manusia ditentukan oleh realitas tata politik; aneka persoalan kemunduran sosial seringkali ditandai dengan kebangkrutan politik dalam hidup bersama; soal-soal yang menyangkut kebebasan beragama dan kebebasan berkembang dalam budayanya juga menjadi perkara yang dominan pada periode sekarang ini.